Jumat, 29 Mei 2015

Peluk Senja Untuk Jingga


 I WANT TO MARRY YOU

Aku menikmati angin yang semlir datang dan pergi silih berganti. Aku dan Jingga duduk diatas pasir yang putih nan lembut. Didepan kami Peluk membangun istana dari pasir, ia sangat menikmati itu.
“Kau Nampak lebih dewasa Senja.” Tatapan indah ia perlihatkan.
“Kau juga nampak semakin anggun.”
“Jika ombak didepan sana akan menghantam kita aku akan menyuruhnya untuk berhenti sejenak lalu aku akan berkata.” Hey jangan merusak kebahagian kami jika ingin merusak maka rusakanlah tubuh ku jangan kebahgian kami.” Aku dengan suara tinggi.
“Ahh kau selalu bisa merayu ku dan membuat ku selalu ingin bersandar dibahu mu.”
Aku tak akan pernah membiarkan kebahagian ku rusak itu tak akan pernah karna aku tak ingin lara mendiami dada ku lagi.
Syahdunya ombak pengiring nada mayor dipantai ini. Nada-nada kebahagiaan disuguhkan lewat deburan ombak. Semua tak ada yang bias semuanya biru sebiru hati ku. Ini surga kita tiada yang menguasainya, ini tempat kita mengukir awalan-awalan yang indah.
Didepan sana terdapat bule sedang surfing karna ombaknya besar dan pasir yang empuk serta kondisinya nyaris tanpa karang. Jika bali mempunyai pantai Kuta maka Sawarna mempunyai pantai pasir putih yang tak kalah eksotis.
Hari ini cuaca mendukung kami untuk bermain ombak aku dan Jingga memutuskan untuk bermain bersama ombak. Berlari-lari kecil mengejar Peluk. Tertawa bersama menari-nari bersama diatas anak ombak.
Kami bertiga berjalan saling bergandengan menyusuri pantai. Kami benar-benar seperti keluarga kecil yang selalu diselimuti kebahagiaan.
Moment ini yang ku tunggu-tunggu sejak lama, dimana aku dan Jingga bisa kembali lagi disini disurga tersembunyi ini.
Setelah agak cukup lelah menyusuri pantai kami bertiga sejenak beristirahat diwarung dekat pantai dan memesan es kelapa muda.
“Yah aku pengen deh punya rumah disini.”  Peluk sambil meminum es kelapa muda.
“Tante juga pengen punya rumah disini.” Jingga menyahut.
“Tante kita samaan.” Peluk sambil nyengir.
“Iya nanti ayah bangunkan istana yang megah untuk Peluk.” Polos Peluk kegirangan.
“Masa untuk Peluk doang untuk aku apa.”
“Untuk mu seluruh hidup ku ku persembahkan.” Aku mencoba merayu.
Awan hitam datang beriringan nampaknya akan turun hujan. Tapi kami enggan untuk bernjak kevilla. Masih rindu dengan suasana syahdu alam ini.
Kami memutuskan untuk menginap tiga hari disini. Disini juga aku akan melamar Jingga menjadi istri ku sekaligus menjadi ibu untuk Peluk.
Wajah Jingga sangat teduh sekali ia terlihat menikmati moment ini. Aku tak akan pernah salah pilih karna aku dan hati ku sudah sepakat untuk memeluk hati Jingga. Dan lagi pantai ini akan menjadi saksi bisu bagai mana aku menumpahkan rasa bahagia ku saat ini. Semua kisah yang kita lewati disini akan ku bingkai dalam ruang-ruang kalbu ku. Aku akan mengawali semua jejak-jejak langkah yang tak lagi samar-samar.
Perihal semua yang perih pernah bersarang lama dihati ku akan ku kubur dalam-dalam disini dan menggantikan bahagia. Tak akan pernah lagi perih ku biarkan merangsak masuk kedalam hati ku tak akan pernah lagi.
Sejenak aku menghela nafas perlahan-lahan lalu kembali kebibir pantai sendiran. Sementara Jingga dan Peluk masih asik menikmati es kelapa muda.
Angin sedikit lebih kencang menghantam tubuh ku. Deru ombak juga semakin kencang. Ahh aku tak takut yang aku hanya takutkan jika mereka tidak ada disamping ku lagi.
Kali ini aku tak bisa berkata-kata aku hanya mampu membisu didepan hamparan laut yang luas dengan pesonannya aku merasakan lebih tenang dan damai walaupun cuaca agak sedikit tak bersahabat.
Nyiur-nyiur pohon kelapa melambai-lambai mengajak ku segera meninggalkan pantai tapi sekali lagi aku ingin disini sampai senja tiba dilangit sana.
Ombak-ombak saling bertabrakan, awan hitam mulai menyatu menjadi satu. Aroma hujan akan turun tercium sampai hidung-hidung langit. Ahh aku ingin mandi air hujan lalu menari dibawah rinai hujan. 
Pantai ini selalu member kesan yang menawan riuh-riuh bahgaia tercipta disini. Alangkah senangnya hati ku saat ini semua terasa teratai yang tumbuh didada ku.
Kebahagian sederhana tercipta bersama mereka kebahgian yang tak bisa dibeli dengan uang ataupun berlian akan ku tanam semua ini bersama waktu yang terus melaju.
Aku enggan mau mundur dari bibir pantai, rintik hujan mulai turun membasahi tubuh ku.
“Senja ayo kita balik ke villa.” Teriak Jingga.
“Ayo kalian kemari kita nikmati hujan ini bersama-sama.” Teriak ku dari bibir pantai.”
“Jangan hujan-hujanan ayah ayo kita kevilla.” Suara Peluk dari warung tapi aku enggan mundur sementara itu hujan semakin deras dan gemuruh ombak semakin terdengar seram. Aku tetap berdiri menatap biru laut yang mulai tak terlihat oleh derasnya hujan. Aku ingin bermain-main berasama hujan dan nyiur ombak yang terdengar seram.
Aku tak takut pada kalian wahai hujan dan deru ombak yang menyeramkan, mari kita bersahabat lalu bermainlah dengan ku. Biarkan air mu membasahi dan membuat ku kedinginan tapi esok pagi hangatkan kembail tubuh ku dengan sinar mentari mu.
Hujan tak mengacaukan rencana ku hujan member ku arti bagai mana arti memahami seperti kata Jingga yang pernah ia ucapkan kepada ku bahwa hujan selalu membawa melodi yang harmoni dan nikmat untuk dinikmati.
Hujan deras tak menghalangi Jingga dan Peluk untuk bermain dipinggir pantai, Jingga dan Peluk akhirnya mereka berduapun menghampiri ku lalu kami bertiga bermain ombak dibawah guyuran hujan.
“Ayah ayo kejar aku.”
“Ehh jangan jauh-jauh dari kami.” Teriak Jingga lalu kita berlari mengejar sikecil Peluk.
Kami berlari-lari kecil sesekali aku menadahkan tangan menangkap air hujan.
Kami bermain-main dengan senangnya, ini adalah satu kebahagian sederhana bagi kami, kami bisa saling menatap mata.
Hujan masih saja enggan reda tapi kami masih ingin menarikan tarian dibawah riani hujan. Kami tak memperdulikan ombak yang mulai pasang kami masih tetap saja mencoba merangkai kebahahagian bersama hujan.
“Aku mencintai mu lebih dari apapun.” Bisik ku ketelinga Jingga.
“Aku lebih cinta dari kamu.”
Kini hati ku yang diguyuri perasaan yang berdebar-debar lalu hujanpun mulai reda sedikit-demi sedikit. Awan putih mengusir awan hitam yang legam pergi dan deru ombak mulai terdengar syahdu kembali bersama mentari sore yang terlihat bersinar setelah hujan reda. Langit membuka birunya yang mempesona.
Kami bertiga sedikit letih setelah bermain-main dengan hujan lalu kamu bertiga duduk diatas pasir putih yang empuk dan lembut. Nafas Peluk sedikit lebih cepat karna kelelahan.
          “Ayah dan Tante aku sangat menikmati ini.”  Aku dan Jingga hanya tersenyum.
Kami bertiga duduk berjejeran dan peluk duduk ditengah-tengah. Dingin akibat hujan yang mengguyur seluruh tubuh kami kini mengering karna mentari dilangit sana bersinar kembali.
Sekarang tangan kami saling bercengkraman sepertinya Sunset akan tiba diikuti dengan goresan pelangi diatas langit sana.
“I Want To Marry You.” Aku menatap mata Jingga dengan tatapan serius.
“Dengan ku?.” Balas Jingga.
“Iya tentu saja itu dengan mu, mau kah kamu menjadi istri ku dan menjadi ibu untuk Peluk.”
“Aku tak akan menyia-nyiakan keinginan mu. Senja aku mau kau menikahi ku secepatnya.” Jingga tersenyum dengan penuh keindahan.
Aku merasa sangat sempurna sore ini sore yang hampir hilang lalu kami bertiga saling berpelukan dan sunset yang menjadi saksi bagai mana kami mengukir kebahagian yang teramat indah sore ini. Iya sore ini hanya ada kami bertiga. Aku akan menikahi Jingga secepatnya aku akan membangun keluarga sederhana bersama mereka. Teruntuk untuk sunset yang menakjubkan sore ini terima kasih atas tatapan indah mu kepada kami. Kami saling berpelukan dan sekali lagi disini hanya ada Peluk Senja Untuk Jingga.

TERPENJARA

Ketempat mana aku berjalan diantara desah nafas yang sesak
Berjubah keringat tubuh ini melangkah tanpa arah
Berjejal jemu mencari peradilan direrimbun pohon
Terduduk lesu

O, betapa gelisah dan sepi menerjang hati
Tak bergaiarah dan tak  bernafsu untuk hidup
Menyemai harapun sudah tak sanggup
Ketika barisan sepi tiba menggerogoti

Bau tanah setelah hujan tercium lamanya
Hujan menguyupkan badan sampai menggigil
Nona, tolong jangan buat aku terombang-ambing karna patah cinta, aku sudah lelah hingga mata enggan terbuka.
Butuh udaramu yang berterbangan dimana-mana

APAKAH HATI KITA SERUPA MESIN?





APAKAH HATI KITA SERUPA MESIN?



          Hari itu mata kuliah Sitsem perawatan dan Perbaikan Mesin, ada kalimat dari dosen saya yang masuk dalam kepalaku dan kalimat itu berhasil membuat otakku sedikit lebih bekerja produktif.

          
 Begini bunyi suara dalam bentuk kata dari dosenku “Kita tidak akan pernah bisa merawat sebuah mesin jika kita tak pernah punya rasa memiliki” berarti mesin itu mesti dirawat sedemikan lembutnya, dan dosenku berkata juga “jika mesin tidak dirawat maka imbasnya terhadap kita sebagai si pengguna” entah apa imbasnya yang jelas jika disimpulkan yaitu Celaka.

          Dua buah kalimat itu berhasil menyetubuhi waktu istirahat. Jadi mungkin si mesin butuh di manja atau diperhatikan, tidak bisa di pungkiri jika mesin tidak kita rawat makan celakalah kita sebagai pengguna, itu mesin lho benda mati dan bisa hidup atau  beroperesi jika kita yang menghidupkannya.

          Yang jadi pertanyaan dalam benakku adalah, Jika mesin si benda mati saja butuh perawatan, bagai mana dengan hati kita yang hidup setiap detiknya?

          Mesin itu ibarat hati seseorang dan kita adalah si pengguna hati itu sendiri, demikian juga hati seseorang yang tak dirawat oleh kita yang sehari-hari menggunakan hati seseorang tersebut, apa yang terjadi pada kita nanti? Yang terjadi pada kita yang tak pernah punya rasa memiliki sehinggi tak merawat hati itu sendiri maka.

          Terlukalah hati jika tak dirawat, maka celaka juga si pengguna jika si hati tak pernah dirawat.

          Celaka seperti apa?

                    Celaka!!! Kita akan akan dilukai oleh hati yang tak pernah kita rawat.


Selasa, 10 Maret 2015

C I D A H A



#C I D A H A



Serupa waktu; aku masih saja ingin berkelana
Berkelana dalam labirin rasa yang angkuh
Sebab aku ingin menuju lalu memuara di hatimu, jarak menujumu begitu berbatu, tak ada yang menghapus keringat yang mengucur di keningku
Aku menyeka dahi sejenak berpikir perihal kamu, adakah aku di tempatkan dalam dadamu? Ah.. aku tak perduli ada atau tidaknya aku, yang terpenting aku mesti melangkah maju, melawan gelombang, mendayung sampan sampai ke tepi.
Hey kamu? Coba tengok aku kebelakang, maka kau akan melihat aku bercucuran keringat dan darah terus mengalir dari telapak kakiku,
Pasti kau tau sebabnya telapak kakiku berdarah-darah. Iya kau benar! Jalan menujumu sungguh berbatu dan itu membuat telapak kakiku di sayat-sayat oleh tajamnya batu.
aku melipat perih dengan senyum tanpa kau tau  bahwa aku sedang berpura-pura baik-baik saja, aku ingin jika aku sampai ke padamu aku masih bisa tersenyum meski luka terus ada dalam dada.
Aku butuh waktu untuk  menyelesaikan semuanya, maka bantu aku, rangkul aku agar tatihanku tak begitu berat. Sungguh aku ingin mentetap di hatimu, menjadi rumah bagimu menjadi tempat meneduhmu saat hujan membasahi tubuhmu.
“Ku ingin ku tau diriku di sini menanti dirimu, meski ku tunggu hingga ujung waktuku dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya, dan izinkan aku memeluk dirimu sekali ini saja”
By- Ungu- Cinta Dalam Hati

Kamis, 05 Maret 2015

#Untukmu Yang Pernah Aku Singgahi Hatinya

 

          Hey, apa kabar sudah lama kita tak bersua,

bagaimana ke adaanmu sekarang baikkah, ya, aku selalu berharap kau baik-baik saja di lingkupi rasa bahagia setiap saatnya, oh iya aku ingin bercerita sedikit kepadamu.

         

          Kamu tau bagai mana rasanya hilang dari hatimu itu membuat luas hatiku untuk membuka jendala hidup lebih jauh, semakin jauh darimu semakin aku jauh pula dari apa yang namanya BERANTAKAN karna putus cinta, tentu saat kau bilang kita “SELESAI” hatiku remuk seketika, dunia ini seakan akan mau runtuh dan bulan mau jatuh ke dadaku, iya aku merasakannya waktu itu ketika kau berlalu pergi meninggalkan kalimat “SELAMAT TINGGAL”

          Dua tahun aku membawa luka yang kau tinggalkan dalam hatiku yang kusut waktu itu, ku bawa berlari ia sejauh jauhnya tapi masih tetap saja lukanya enggan mengering, ku bawa ia terbang masih belum juga hilang lukanya.

          Tau kah kau bahwa semua usahaku tak membuahkan hasil yang cukup baik, hingga pada akhirnya Tuhan mempunyai rencana lain untuk membuat lukaku mengering akibat kebohonganmu.

          Iya, Tentu Tuhan maha baik, iya mengirmkan sesorang yang amat baik buatku dan untukku sampai sekarang, iya menemamiku membasuh luka dengan keringatnya sendiri, dia memanjakanku dengan penuih rasa tulus, dia merawatku sepenuh hatinya bahkan ketika aku kembali menginngat akan dirimu, dia yang lebih dulu menyuruhku untuk tidak terlena dalam luka dalam.

          Kau perlu tau; Bersamanya kini membuatku lebih mengerti akan tentang pengirbanan tentang kesabaran, ia menuntunku dengan ikhlas tanpa harus ku balas dengan Hati kepadanya.

          Pernah ku tanya ia perihal membalas budi.

          “Bagai mana aku harus membalas kebaikanmu, apa kau mengingankan hatiku dan cintaku.” Tanyaku, lalu ia menjawab, “Tidak aku tidak menginginkanmu biarkan hatimu sendiri yang menyadari dan akupun siap untuk menjadi tempat hatimu pulang.” Jwabannya cuku bijak, bergetar hatiku di buat olehnya,

          Memang pertemuanku dengannya adalah takdirNya, awalnya aku memang enggan memberi hatiku kepada sembarang orang tetapi waktu menunjukan semuanya kepadaku bahwa aku memang harus pulang kehatinya, lambat laun aku mulai jatuh hati dan lalu jatuh cinta kepadanya, dan pada akhirnya kamipun memutuskan untuk berjalan bersama.

          Ia selalu memberiku ruang untuk tertawa dan menikmati hidup setiap detiknya, ia menyadarkanku bahwa hidup adalah tentang rasa ikhlas dan sabar yang tak terbatas, dia membuatku selalu menikmati dunia yang luas dan indah ini.

          Teruntukmu yang pernah ku singgahi hatinya, terima kasih untuk luka luka yang kau titipkan padaku, jika bukan karna lukamu aku tak akan bertemu dengannya dan tak akan sebahagia ini.