Rabu, 15 Oktober 2014
Zahra jangan menangis air matamu belati bagi jantungku
Biarlah angin membawa riuh damai dalam jiwamu
Dentuman nafasmu masih terdengar merdu
Aroma tubuhmu masih tercium harum
Zahra seseungguhnya akupun merasai asap yang mengepul pada dadaku
aku ingin pergi dan mungkin takan kembali...
sudahlah Zahra terima saja lelaki hebat pilihan orang tuamu
aku tak begitu hebat untuk memasuki kehidupan bersamamu
Sepenggal cerita kita berakhir dibulan oktober, bersama rinai hujan,bersama sembab yang memukul mukul mataku..
Zahra aku cinta kamu, sungguh aku pun ingin meretas rasa itu bersamamu,
tapi apa dayaku ketika mereka menentang semua kejujuran hatiku,
Zahra kau akan lebih bahagia hidup bersama pilihan orang tuamu,
Zahra turuti saja kemauan orang tuamu, aku cinta kamu tapi kamu jangan membantah kedua orang tuamu, aku tak ingin kamu menjadi anak yang durhaka Zahra,
Biar bersama pilu aku kubur dengan waktu, biar waktu yang, menjadi obat kepiluanku
Biarlah angin membawa riuh damai dalam jiwamu
Dentuman nafasmu masih terdengar merdu
Aroma tubuhmu masih tercium harum
Zahra seseungguhnya akupun merasai asap yang mengepul pada dadaku
aku ingin pergi dan mungkin takan kembali...
sudahlah Zahra terima saja lelaki hebat pilihan orang tuamu
aku tak begitu hebat untuk memasuki kehidupan bersamamu
Sepenggal cerita kita berakhir dibulan oktober, bersama rinai hujan,bersama sembab yang memukul mukul mataku..
Zahra aku cinta kamu, sungguh aku pun ingin meretas rasa itu bersamamu,
tapi apa dayaku ketika mereka menentang semua kejujuran hatiku,
Zahra kau akan lebih bahagia hidup bersama pilihan orang tuamu,
Zahra turuti saja kemauan orang tuamu, aku cinta kamu tapi kamu jangan membantah kedua orang tuamu, aku tak ingin kamu menjadi anak yang durhaka Zahra,
Biar bersama pilu aku kubur dengan waktu, biar waktu yang, menjadi obat kepiluanku
Kamis, 02 Oktober 2014
Dua bulan yang lalu kita pernah bercerita tentang malam yang begitu menawan, duduk bersisian saling membaca mata, merangkai kata dan menyederhanakan kita, sesederhana purnama dan seistimewah kita,
Sebenarnya ini bukan perihal malam yang menawan tapi ini perihal kita duduk bersisian saling memandang ditemani secangkir kopi jahe ditaman bulan dengan langit berbintang diselimuti malam,
Dua bulan yang lalu kita duduk terakhir kali disini dibangku berwarna putih dengan sejuta senyum terlihat dari bibirmu,
Sekarang dewiku pergi menuju surgaNYA dijemput dengan kereta kencana milik TuhanNya, saat dia pergi aku melihat ia pergi memakai gaun yang cantik, bermakotakan bunga diatas kepalanya,
kali ini bukan perihal tentang kita, tapi perihal aku yang tak lagi bisa menyederhanakan kita, kali ini aku tanpa kamu tidak ada kita yang menyederhakan malam,
Surat ini ku buat dengan sembilu yang menusuk rongga rongga dadaku, tanpamu pilu tanpamu kaku, pergimu indah tapi lebih indah jika kita pergi bersama sama menuju surgaNYA
Kamu pergi tanpa pamit terlebih dahulu padaku, tanpa sebuket bunga untukku, tanpa secangkir teh jahe dan tanpa barisan abjad yang indah,
surat ini mewakili dua bulannya aku tanpamu, sepi,gelap,pengap dan berdebu, sampai pada akhirnya aku pilu,
Aku sering menyelipkan namamu disela sela doa ku, kamu pasti mengetahui itu, mengetahui segala sesuatu tentangku, disini, untku mu surat ini ku buat dengan jemariku sendiri dengan kata kata yang mungkin tak indah tapi semoga kanu membacanya disana,
Dariku Arjuna yang mencintaimu Dewi malam.
Langganan:
Postingan (Atom)