Selasa, 23 September 2014

Budi gue pengen cerita,


Budi gue pengen cerita,

Cerita apa din cerita aja, jawab budi

dini : “bud gue tuh pengen banget ngomong gini, >kamu tau ga judul skripsi aku uda di acc dosen , aku nyari refrensi kemana ya, hmmm oya dospem aku siapa ya…semoga ga rese, satu lagi doain aku juga ya semoga lancar skripsinya aamiin<

Budi : ya ngomonglah ke Angga jangan dipendem gitu ga baik, jangan sedih” 

dini : “gue pengen ngomong sama ipank,” keras suara dini sambil menoleh

“Kok ke ipank bukan ke angga” budi penasaran.

Dengerin simak baik baik,ya bud  “ ipank mantan gue udah 7tahun pacaran, dan gue dibiasain dimanja sma dia, annga ga kayak ipank,angga cuek banget sama gue dan biasanya hal sekecil apapun gue ceritain ke ipank, kalo gue cerita atau ngomong ke angga dia paling jawab gini, *kaya begitu doang? Ga penting!! Gitu pasti”, 

Terus si ipank ini dimana, Tanya budi,

“Ada tapi udah masing masing ga pernah kemunikasian, sebenernya gue putus dari ipank pas 1 hari sebelum kita berangkat ke bogor, tuh kan gue putusnya baru tiga bulan bud, angga jahat sama gue, dia ga care sama gue” jawab dini

Dini sambil menitikan air matanya yang sering sederas gerimis, ia mulai mengabiskan tisyu diatas meja makan kita berdua malam itu,
Sambil tersedu sedu ”ipank itu pacar,temen,kakak,sodara,musuh, mangkaannya gue suka ngerasa sakit banget kalo angga ga perduli dan dingin sama gue, soalnya gue ga dibiasain kaya gini, angga jahat” semakin sering air matanya keluar


Senin, 22 September 2014

BAGIAN SATU

        Baru saja kemarin rabu kita bertemu didanau dekat rumahmu, tapi sekarang aku sudah lagi rindu, rinduku terlalu candu untuk dihentikan, bahkan sayap pipitpun tak mampu memotong candu rinduku, rasanya aku selalu ingin bersamamu, bersamamu berjalan diatas hamparan bunga, dihiasi kerlip lampu taman, berpegangan,bersisian saling memandang, Laju darahku semakin kencang tak tahan aku serasa ingin segera berjumpa denganmu, menikmati rinai hujan yang dekat dengan pelupuk mata, seperti sore kemarin lidahku terbungkus oleh kaku, Anjani sungguh aku luruh dihadapanmu,       

Sore itu aku dan kamu duduk bersisian, memandang alur air yang tenang seperti alam yang saat itu teduh, kamu terlalu batu aku kaku dan kamu terlihat semu, duduklah aku dan kamu diatas rumput yang hijau dan sepertinya bersahabat, angin yang tak terlalu kencang, senja yang mulai tampak, siluet yang mulai tiba tanpa dipanggil, seolah olah mereka tahu apa yang aku butuhkan saat ini, suasana jingga yang ku renguh dalam dada, tak merobek jika mulai singgah,

Sejenis rasa dibalut dengan senja aku mulai merona melihat wajahmu yang terlihat jelas disisiku, bertepian rasaku mulai tumbuh, entah apa ini yang tiba dan bersarang dihatiku, mungkinkah aku menjatuhkan rasa terhadapmu, entahlah tapi saat sore itu aku mulai teringat ingat perihal kamu,
Sepertinya aku ingin menggenggam tanganmu sore itu, tapi diiringi dan diimbangi rasa malu yang bedebu aku urungkan niatku untuk menggenggam tanganmu menikmati sentuhan lembut jemarimu .

Ada rasa yang hinggap dihatiku sore itu yang menjelma dan menyatu menjadi kalbu, mengucur deras dalam dadaku sesekali berombak menghantam jantungku, ada keinginan yang saat itu melintasi pikiranku dengan laju yang  cepat secepat gelombang menghantam sang karang, ingin ku menatap tajam kedua bola matamu, aku hanya ingin tahu seberapa lamakah aku bisa menatapmu dengan tatapan mata jatuh cinta.

Sejak Enam bulan yang lalu semenjak aku mengenalimu aku sudah bisa membaca bahwa kamu seorang perempuan yang tenang, ku dengar saat pertama kali kita berbicara tentang baksos ke organisasian, dan saat itu kamu yang menjadi skertarisnya dan aku yang baru saja merangkap menjadi anggota, tapi aku sudah bisa membaca  bahwa kamu perempuan yang berbeda,  bicaramu lembut, suaramu berirama, mulai saat itu aku sudah bisa membaca karaktermu dari bahasa tubuhmu, sembari kau perlihatkan senyum elokmu dan sejak saat itulah aku dan kamu saling mengenali sampai sore ini.
Apalah artinya angin tanpa daun,apalah artinya danau tanpa air, semua diciptakan berpasang pasangan walau sesekali mereka harus menikmati kemarau panjang.
“Apa yang kau dapati perihal air didanau ini” Anjani bertanya pendek
“Aku mencium aroma kedamaian disini jan” jawabku sembari menoleh.
“Kedamaian seperti apa” tanyanya lagi
“Ya damai aja apa lagi kalo sama kamu” jawabku nyengir
Tapi sebenarnya bukan itu juga jawabanku, ada yang lebih panjang yang harus ku jelaskan lewat jawabanku tapi aku sedikit malu, sesungguhnya dalam hatiku danau ini tempat menyimpan sejuta kebahagiaan,kenapa? Karena aku dan kamu sering menghabiskan waktu sore akhir pecan disini didanau ini tempat sejuta isyarat hati yang kini meniti jalan lewat hati, iya aku bahagia perihal danau ini dan kamu sebagai bahagianya.
                                            
Ku rasa malam semakin pekat hembusan angin sampai terasa seperti mengetuk ngetuk jendela kamarku dan tercium aroma hujan akan membasahi bumi ku malam ini, kelabulah malamku saat gemircik hujan malam ini benar benar turun, suaranya sampai membuat resah sembilu hatiku merasuk berlari kedalam dadaku yang kini menghujani rinduku padamu dan sepertinya hujan ingin ikut meramaikan resah hatiku akibat kerinduanku padamu.
Ku rasa malam ini  aku sedang rindu nan candu padamu, rindu yang menggebu gebu dan tentang ngilu yang menaggung rindu, begitu kerasnya rindu yang saat ini ku derita, terpatah patah aku membaca isyarat hati, api berkobar menjalar dan membakar rona rona ruang kalbuku, menyulut seolah olah aku harus segera jumpa denganmu, apakah ini rindu yang amat candu.
Malam  ini aku terbayang bayang oleh sosokmu melintasi sukmaku dengan asmaramu membawa sejuk sampai kamarku, lihatlah hujan diluar sana, suaranya begitu merdu,

                                              
Semerdu aku yang sedang merasakan jatuh cinta dihatimu, apa artinya cinta tanpa kata kata dan barisan abjad yang indah, kamu terlalu aku resapi perlahan lahan sampai diujung ubun ubunku, apa kamu merasakan perihal yang sama dengan hatiku yang merata malam ini, Anjani aku jatuh diatimu apakah aku akan terbangun lagi dalam bingkai bingkai hatimu
Terpatah patah aku membaca gerak laju pikiranku malam ini, laju pikiran perihal kamu semua tentang apa yang ada pada dirimu,
Malam ini begitu pekat mungkin akan terasa pengap, berdebu

Minggu, 21 September 2014

Apa Kabar

Genap sudah satu minggu dari jumat yang lalu sampai jumat malam ini, kita belum juga berkomunikasi via Bbm, entah apa yang ada di benakmu saat aku mencoba tak menghubungimu satu minggu yang lalu, apa adakah di fikiranmu perihal aku? Sengaja aku mulai tak menghubungimu, nyatanya kamu sudah terlalu sibuk dengan dunia mu dan dunianya, hingga aku tersisihkan dari hari harimu, Satu minggu tanpa berkomunikasi dan tanpa mendengar kabarmu, bukan perihal yang mudah, aku harus melawan rasa sepiku sendiri, aku mesti berkelahi dengan cemburuku, ketika kamu mulai memamerkan dia di foto profil Bb mu, serentak nadiku mulai mengkerut, sakit.. Tentu, ingin marah tapi aku siapa!!!
Aku menyadari semua keterbatasan ruang itu, ruang singgah yang tak kau beri cahaya padaku, Iya memang aku terlalu berlebihan kepadamu, maafkan aku jika aku seperti itu,
Nyatanya sampai sekarang aku masih belum bisa membuang rasa itu jauh jauh, Tapi mungkin kamu belum mengerti atau kamu memang tidak mau perduli, aku selalu kalah jika harus menjawab tentang keadaan... Kapan kamu akan menyapaku kembali lewat pesan singkatmu, aku ingin mendengar kabarmu, Aku tau siapa aku, aku paham dimana aku harus mengerti, mungkin ini waktu yang tepat untuk aku mengerti, berhenti mengganggumu, berhenti berkomunikasi denganmu, karna aku tau saat ini kau sedang dilanda taman bunga bersamanya Sebenarnya aku rindu tapi untuk kali ini aku malu untuk sekedar menyapamu atau berbasa basi denganmu, Aku malu aku terlihat kerdil,
Aku hanya bisa mewakilkan kecemburuanku,kerinduanku,kekhawatiranku, aku hanya bisa mewakilkan semua perihal kamu lewat status statusku di bkackberry messengerku, karna aku tau, aku bukan merupakan bagian dari cerita bahagiamu

Sebuah Kisah Cinta

Bait demi bait,ku rangkai menjadi abjad, Kutumpahkan segala peluhku pada secarik kertas gejolak perasaan yang dulu beku, kini mencair, saat aku kehilangan dirimu . Aku kehilangan sebuah cerita kecil yang kau balut dengan penuh kesederhanaan, pulanglah aku rindu, Maaf atas semua kebodohanku, Aku terlambat menyadari, Masih kau ingat kah, Ayunan yang dulu sering kita mainkan, kini lapuk di makan rayap, kering dan hampir roboh, seperti itulah aku sekarang. Sungguh aku ingin meretas rasa ini dalam akan ku bingkai engkau dalam ruang-ruang warna warni hatiku . Ku buatkan sebuah istana kecil dengan taman bunga didalamnya, kembali lah,pulanglah kesini, Sekarang aku Catat ..