I WANT TO MARRY YOU
Aku menikmati angin
yang semlir datang dan pergi silih berganti. Aku dan Jingga duduk diatas pasir
yang putih nan lembut. Didepan kami Peluk membangun istana dari pasir, ia
sangat menikmati itu.
“Kau Nampak lebih
dewasa Senja.” Tatapan indah ia perlihatkan.
“Kau juga nampak semakin
anggun.”
“Jika ombak didepan
sana akan menghantam kita aku akan menyuruhnya untuk berhenti sejenak lalu aku
akan berkata.” Hey jangan merusak
kebahagian kami jika ingin merusak maka rusakanlah tubuh ku jangan kebahgian
kami.” Aku dengan suara tinggi.
“Ahh kau selalu bisa
merayu ku dan membuat ku selalu ingin bersandar dibahu mu.”
Aku tak akan pernah
membiarkan kebahagian ku rusak itu tak akan pernah karna aku tak ingin lara
mendiami dada ku lagi.
Syahdunya ombak
pengiring nada mayor dipantai ini. Nada-nada kebahagiaan disuguhkan lewat
deburan ombak. Semua tak ada yang bias semuanya biru sebiru hati ku. Ini surga
kita tiada yang menguasainya, ini tempat kita mengukir awalan-awalan yang
indah.
Didepan sana terdapat
bule sedang surfing karna ombaknya besar dan pasir yang empuk serta kondisinya
nyaris tanpa karang. Jika bali mempunyai pantai Kuta maka Sawarna mempunyai
pantai pasir putih yang tak kalah eksotis.
Hari ini cuaca
mendukung kami untuk bermain ombak aku dan Jingga memutuskan untuk bermain
bersama ombak. Berlari-lari kecil mengejar Peluk. Tertawa bersama menari-nari
bersama diatas anak ombak.
Kami bertiga berjalan
saling bergandengan menyusuri pantai. Kami benar-benar
seperti keluarga kecil yang selalu diselimuti kebahagiaan.
Moment ini yang ku
tunggu-tunggu sejak lama, dimana aku dan Jingga bisa kembali lagi disini
disurga tersembunyi ini.
Setelah agak cukup
lelah menyusuri pantai kami bertiga sejenak beristirahat diwarung dekat pantai
dan memesan es kelapa muda.
“Yah aku pengen deh
punya rumah disini.” Peluk sambil
meminum es kelapa muda.
“Tante juga pengen
punya rumah disini.” Jingga menyahut.
“Tante kita samaan.”
Peluk sambil nyengir.
“Iya nanti ayah
bangunkan istana yang megah untuk Peluk.” Polos Peluk kegirangan.
“Masa untuk Peluk doang
untuk aku apa.”
“Untuk mu seluruh hidup
ku ku persembahkan.” Aku mencoba merayu.
Awan hitam datang
beriringan nampaknya akan turun hujan. Tapi kami enggan untuk bernjak kevilla.
Masih rindu dengan suasana syahdu alam ini.
Kami memutuskan untuk
menginap tiga hari disini. Disini juga aku akan melamar Jingga menjadi istri ku
sekaligus menjadi ibu untuk Peluk.
Wajah Jingga sangat
teduh sekali ia terlihat menikmati moment ini. Aku tak akan pernah salah pilih
karna aku dan hati ku sudah sepakat untuk memeluk hati Jingga. Dan lagi pantai
ini akan menjadi saksi bisu bagai mana aku menumpahkan rasa bahagia ku saat
ini. Semua kisah yang kita lewati disini akan ku bingkai dalam ruang-ruang
kalbu ku. Aku akan mengawali semua jejak-jejak langkah yang tak lagi
samar-samar.
Perihal semua yang
perih pernah bersarang lama dihati ku akan ku kubur dalam-dalam disini dan
menggantikan bahagia. Tak akan pernah lagi perih ku biarkan merangsak masuk
kedalam hati ku tak akan pernah lagi.
Sejenak aku menghela
nafas perlahan-lahan lalu kembali kebibir pantai sendiran. Sementara Jingga dan
Peluk masih asik menikmati es kelapa muda.
Angin sedikit lebih
kencang menghantam tubuh ku. Deru ombak juga semakin kencang. Ahh aku tak takut
yang aku hanya takutkan jika mereka tidak ada disamping ku lagi.
Kali ini aku tak bisa
berkata-kata aku hanya mampu membisu didepan hamparan laut yang luas dengan
pesonannya aku merasakan lebih tenang dan damai walaupun cuaca agak sedikit tak
bersahabat.
Nyiur-nyiur pohon
kelapa melambai-lambai mengajak ku segera meninggalkan pantai tapi sekali lagi
aku ingin disini sampai senja tiba dilangit sana.
Ombak-ombak saling
bertabrakan, awan hitam mulai menyatu menjadi satu. Aroma hujan akan turun
tercium sampai hidung-hidung langit. Ahh aku ingin mandi air hujan lalu menari
dibawah rinai hujan.
Pantai ini selalu
member kesan yang menawan riuh-riuh bahgaia tercipta disini. Alangkah senangnya
hati ku saat ini semua terasa teratai yang tumbuh didada ku.
Kebahagian sederhana
tercipta bersama mereka kebahgian yang tak bisa dibeli dengan uang ataupun
berlian akan ku tanam semua ini bersama waktu yang terus melaju.
Aku enggan mau mundur
dari bibir pantai, rintik hujan mulai turun membasahi tubuh ku.
“Senja ayo kita balik
ke villa.” Teriak Jingga.
“Ayo kalian kemari kita
nikmati hujan ini bersama-sama.” Teriak ku dari bibir pantai.”
“Jangan hujan-hujanan
ayah ayo kita kevilla.” Suara Peluk dari warung tapi aku enggan mundur
sementara itu hujan semakin deras dan gemuruh ombak semakin terdengar seram.
Aku tetap berdiri menatap biru laut yang mulai tak terlihat oleh derasnya
hujan. Aku ingin bermain-main berasama hujan dan nyiur ombak yang terdengar
seram.
Aku tak takut pada
kalian wahai hujan dan deru ombak yang menyeramkan, mari kita bersahabat lalu
bermainlah dengan ku. Biarkan air mu membasahi dan membuat ku kedinginan tapi
esok pagi hangatkan kembail tubuh ku dengan sinar mentari mu.
Hujan tak mengacaukan
rencana ku hujan member ku arti bagai mana arti memahami seperti kata Jingga
yang pernah ia ucapkan kepada ku bahwa hujan selalu membawa melodi yang harmoni
dan nikmat untuk dinikmati.
Hujan deras tak
menghalangi Jingga dan Peluk untuk bermain dipinggir pantai, Jingga dan Peluk
akhirnya mereka berduapun menghampiri ku lalu kami bertiga bermain ombak
dibawah guyuran hujan.
“Ayah ayo kejar aku.”
“Ehh jangan jauh-jauh
dari kami.” Teriak Jingga lalu kita berlari mengejar sikecil Peluk.
Kami berlari-lari kecil
sesekali aku menadahkan tangan menangkap air hujan.
Kami bermain-main
dengan senangnya, ini adalah satu kebahagian sederhana bagi kami, kami bisa
saling menatap mata.
Hujan masih saja enggan
reda tapi kami masih ingin menarikan tarian dibawah riani hujan. Kami tak
memperdulikan ombak yang mulai pasang kami masih tetap saja mencoba merangkai
kebahahagian bersama hujan.
“Aku mencintai mu lebih
dari apapun.” Bisik ku ketelinga Jingga.
“Aku lebih cinta dari
kamu.”
Kini hati ku yang
diguyuri perasaan yang berdebar-debar lalu hujanpun mulai reda sedikit-demi
sedikit. Awan putih mengusir awan hitam yang legam pergi dan deru ombak mulai
terdengar syahdu kembali bersama mentari sore yang terlihat bersinar setelah
hujan reda. Langit membuka birunya yang mempesona.
Kami bertiga sedikit
letih setelah bermain-main dengan hujan lalu kamu bertiga duduk diatas pasir
putih yang empuk dan lembut. Nafas Peluk sedikit lebih cepat karna kelelahan.
“Ayah dan Tante aku sangat menikmati ini.” Aku dan Jingga hanya tersenyum.
“Ayah dan Tante aku sangat menikmati ini.” Aku dan Jingga hanya tersenyum.
Kami bertiga duduk
berjejeran dan peluk duduk ditengah-tengah. Dingin akibat hujan yang mengguyur
seluruh tubuh kami kini mengering karna mentari dilangit sana bersinar kembali.
Sekarang tangan kami
saling bercengkraman sepertinya Sunset akan tiba diikuti dengan goresan pelangi
diatas langit sana.
“I Want To Marry You.”
Aku menatap mata Jingga dengan tatapan serius.
“Dengan ku?.” Balas
Jingga.
“Iya tentu saja itu
dengan mu, mau kah kamu menjadi istri ku dan menjadi ibu untuk Peluk.”
“Aku tak akan
menyia-nyiakan keinginan mu. Senja aku mau kau menikahi ku secepatnya.” Jingga
tersenyum dengan penuh keindahan.
Aku merasa sangat
sempurna sore ini sore yang hampir hilang lalu kami bertiga saling berpelukan
dan sunset yang menjadi saksi bagai mana kami mengukir kebahagian yang teramat
indah sore ini. Iya sore ini hanya ada kami bertiga. Aku akan menikahi Jingga
secepatnya aku akan membangun keluarga sederhana bersama mereka. Teruntuk untuk
sunset yang menakjubkan sore ini terima kasih atas tatapan indah mu kepada
kami. Kami saling berpelukan dan sekali lagi disini hanya ada Peluk Senja Untuk
Jingga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar