Selasa, 25 November 2014
SAJAK ( AKU BUNGA DAN KAU HUJAN )
" MATAMU DENGAN HATIMU SAMA SAJA, TIDAK ADA YANG BERUBAH DARI SEMUANYA.
PELANGIMU MASIH SAJA HINGGAP DINADIMU, MERAH WARNAMU MASIH HINGAR SEPERTI YANG DULU.
SERANGKAI CANDU YANG MEREBUT RINDU LALU MENCUMBUINYA BERSAMA HUJAN.
HEY ! KAU LELAKI HUJAN, BASUH TUBUHKU DENGAN BENING AIR MU, LALU BACAKAN AKU SEBUAH PUISI PERIHAL WANGI TANAH SETELAH HUJAN.
AKU SERING KALI KEHILANGAN ASA PERIHAL TINTA YANG SELALU KU TUANGKAN DIATAS KERTAS, LALU MEREKA PERGI BERSAMA WAKTU YANG TAK LAGI AKAN KEMBALI.
KU PERSILAHKAN AIR MU MENYETUBUHI DURI-DURI YANG MENEMPAL PADA TUBUHKU.
JANGAN BIARKAN PILU MENYEBRANG KELAUT HATIKU, TAHAN MEREKA DENGAN AIR DERASMU JANGAN BIARKAN MEREKA MERANGSEK MASUK MERUSAK HARU HATI KU, SELEBIHNYA AKU MENGIZINKANMU YANG BENING DIHATIKU.
HATI YANG BEGITU BIRU KINI SUDAH JARANG KAU SAMBANGI
SEPANJANG JALAN PERTEMUAN SEMUA MENYISAKAN LARA, MAKA KEMARILAH DEKAP ERAT WANGI TUBUHKU. AKU DAN KAMU HANYA ADA SATU, AKU BUNGA DAN KAU HUJAN "
Rabu, 15 Oktober 2014
Zahra jangan menangis air matamu belati bagi jantungku
Biarlah angin membawa riuh damai dalam jiwamu
Dentuman nafasmu masih terdengar merdu
Aroma tubuhmu masih tercium harum
Zahra seseungguhnya akupun merasai asap yang mengepul pada dadaku
aku ingin pergi dan mungkin takan kembali...
sudahlah Zahra terima saja lelaki hebat pilihan orang tuamu
aku tak begitu hebat untuk memasuki kehidupan bersamamu
Sepenggal cerita kita berakhir dibulan oktober, bersama rinai hujan,bersama sembab yang memukul mukul mataku..
Zahra aku cinta kamu, sungguh aku pun ingin meretas rasa itu bersamamu,
tapi apa dayaku ketika mereka menentang semua kejujuran hatiku,
Zahra kau akan lebih bahagia hidup bersama pilihan orang tuamu,
Zahra turuti saja kemauan orang tuamu, aku cinta kamu tapi kamu jangan membantah kedua orang tuamu, aku tak ingin kamu menjadi anak yang durhaka Zahra,
Biar bersama pilu aku kubur dengan waktu, biar waktu yang, menjadi obat kepiluanku
Biarlah angin membawa riuh damai dalam jiwamu
Dentuman nafasmu masih terdengar merdu
Aroma tubuhmu masih tercium harum
Zahra seseungguhnya akupun merasai asap yang mengepul pada dadaku
aku ingin pergi dan mungkin takan kembali...
sudahlah Zahra terima saja lelaki hebat pilihan orang tuamu
aku tak begitu hebat untuk memasuki kehidupan bersamamu
Sepenggal cerita kita berakhir dibulan oktober, bersama rinai hujan,bersama sembab yang memukul mukul mataku..
Zahra aku cinta kamu, sungguh aku pun ingin meretas rasa itu bersamamu,
tapi apa dayaku ketika mereka menentang semua kejujuran hatiku,
Zahra kau akan lebih bahagia hidup bersama pilihan orang tuamu,
Zahra turuti saja kemauan orang tuamu, aku cinta kamu tapi kamu jangan membantah kedua orang tuamu, aku tak ingin kamu menjadi anak yang durhaka Zahra,
Biar bersama pilu aku kubur dengan waktu, biar waktu yang, menjadi obat kepiluanku
Kamis, 02 Oktober 2014
Dua bulan yang lalu kita pernah bercerita tentang malam yang begitu menawan, duduk bersisian saling membaca mata, merangkai kata dan menyederhanakan kita, sesederhana purnama dan seistimewah kita,
Sebenarnya ini bukan perihal malam yang menawan tapi ini perihal kita duduk bersisian saling memandang ditemani secangkir kopi jahe ditaman bulan dengan langit berbintang diselimuti malam,
Dua bulan yang lalu kita duduk terakhir kali disini dibangku berwarna putih dengan sejuta senyum terlihat dari bibirmu,
Sekarang dewiku pergi menuju surgaNYA dijemput dengan kereta kencana milik TuhanNya, saat dia pergi aku melihat ia pergi memakai gaun yang cantik, bermakotakan bunga diatas kepalanya,
kali ini bukan perihal tentang kita, tapi perihal aku yang tak lagi bisa menyederhanakan kita, kali ini aku tanpa kamu tidak ada kita yang menyederhakan malam,
Surat ini ku buat dengan sembilu yang menusuk rongga rongga dadaku, tanpamu pilu tanpamu kaku, pergimu indah tapi lebih indah jika kita pergi bersama sama menuju surgaNYA
Kamu pergi tanpa pamit terlebih dahulu padaku, tanpa sebuket bunga untukku, tanpa secangkir teh jahe dan tanpa barisan abjad yang indah,
surat ini mewakili dua bulannya aku tanpamu, sepi,gelap,pengap dan berdebu, sampai pada akhirnya aku pilu,
Aku sering menyelipkan namamu disela sela doa ku, kamu pasti mengetahui itu, mengetahui segala sesuatu tentangku, disini, untku mu surat ini ku buat dengan jemariku sendiri dengan kata kata yang mungkin tak indah tapi semoga kanu membacanya disana,
Dariku Arjuna yang mencintaimu Dewi malam.
Selasa, 23 September 2014
Budi gue pengen cerita,
Budi
gue pengen cerita,
Cerita
apa din cerita aja, jawab budi
dini : “bud
gue tuh pengen banget ngomong gini, >kamu tau ga judul skripsi aku uda di
acc dosen , aku nyari refrensi kemana ya, hmmm oya dospem aku siapa ya…semoga
ga rese, satu lagi doain aku juga ya semoga lancar skripsinya aamiin<
Budi : ya
ngomonglah ke Angga jangan dipendem gitu ga baik, jangan sedih”
dini : “gue
pengen ngomong sama ipank,” keras suara dini sambil menoleh
“Kok
ke ipank bukan ke angga” budi penasaran.
Dengerin simak baik baik,ya bud “ ipank
mantan gue udah 7tahun pacaran, dan gue dibiasain dimanja sma dia, annga ga
kayak ipank,angga cuek banget sama gue dan biasanya hal sekecil apapun gue
ceritain ke ipank, kalo gue cerita atau ngomong ke angga dia paling jawab gini,
*kaya begitu doang? Ga penting!! Gitu pasti”,
Terus
si ipank ini dimana, Tanya budi,
“Ada
tapi udah masing masing ga pernah kemunikasian, sebenernya gue putus dari ipank
pas 1 hari sebelum kita berangkat ke bogor, tuh kan gue putusnya baru tiga
bulan bud, angga jahat sama gue, dia ga care sama gue”
jawab dini
Dini sambil menitikan air matanya yang sering
sederas gerimis, ia mulai mengabiskan tisyu diatas meja makan kita berdua malam
itu,
Sambil tersedu sedu ”ipank itu pacar,temen,kakak,sodara,musuh, mangkaannya gue suka ngerasa
sakit banget kalo angga ga perduli dan dingin sama gue, soalnya gue ga
dibiasain kaya gini, angga jahat” semakin sering air matanya keluar
Senin, 22 September 2014
BAGIAN SATU
Baru saja kemarin rabu
kita bertemu didanau dekat rumahmu, tapi sekarang aku sudah lagi rindu, rinduku
terlalu candu untuk dihentikan, bahkan sayap pipitpun tak mampu memotong candu
rinduku, rasanya aku selalu ingin bersamamu, bersamamu berjalan diatas hamparan
bunga, dihiasi kerlip lampu taman, berpegangan,bersisian saling memandang, Laju darahku semakin
kencang tak tahan aku serasa ingin segera berjumpa denganmu, menikmati rinai
hujan yang dekat dengan pelupuk mata, seperti sore kemarin lidahku terbungkus
oleh kaku, Anjani sungguh aku luruh dihadapanmu,
Sejenis rasa dibalut dengan senja aku mulai merona melihat wajahmu yang terlihat jelas disisiku, bertepian rasaku mulai tumbuh, entah apa ini yang tiba dan bersarang dihatiku, mungkinkah aku menjatuhkan rasa terhadapmu, entahlah tapi saat sore itu aku mulai teringat ingat perihal kamu,
Sejak Enam bulan yang lalu semenjak aku mengenalimu aku sudah bisa membaca bahwa kamu seorang perempuan yang tenang, ku dengar saat pertama kali kita berbicara tentang baksos ke organisasian, dan saat itu kamu yang menjadi skertarisnya dan aku yang baru saja merangkap menjadi anggota, tapi aku sudah bisa membaca bahwa kamu perempuan yang berbeda, bicaramu lembut, suaramu berirama, mulai saat itu aku sudah bisa membaca karaktermu dari bahasa tubuhmu, sembari kau perlihatkan senyum elokmu dan sejak saat itulah aku dan kamu saling mengenali sampai sore ini.
Sore itu aku dan kamu
duduk bersisian, memandang alur air yang tenang seperti alam yang saat itu
teduh, kamu terlalu batu aku kaku dan kamu terlihat semu, duduklah aku dan kamu
diatas rumput yang hijau dan sepertinya bersahabat, angin yang tak terlalu
kencang, senja yang mulai tampak, siluet yang mulai tiba tanpa dipanggil,
seolah olah mereka tahu apa yang aku butuhkan saat ini, suasana jingga yang ku
renguh dalam dada, tak merobek jika mulai singgah,
Sejenis rasa dibalut dengan senja aku mulai merona melihat wajahmu yang terlihat jelas disisiku, bertepian rasaku mulai tumbuh, entah apa ini yang tiba dan bersarang dihatiku, mungkinkah aku menjatuhkan rasa terhadapmu, entahlah tapi saat sore itu aku mulai teringat ingat perihal kamu,
Sepertinya aku ingin
menggenggam tanganmu sore itu, tapi diiringi dan diimbangi rasa malu yang
bedebu aku urungkan niatku untuk menggenggam tanganmu menikmati sentuhan lembut
jemarimu .
Ada rasa yang hinggap
dihatiku sore itu yang menjelma dan menyatu menjadi kalbu, mengucur deras dalam
dadaku sesekali berombak menghantam jantungku, ada keinginan yang saat itu
melintasi pikiranku dengan laju yang
cepat secepat gelombang menghantam sang karang, ingin ku menatap tajam
kedua bola matamu, aku hanya ingin tahu seberapa lamakah aku bisa menatapmu
dengan tatapan mata jatuh cinta.
Sejak Enam bulan yang lalu semenjak aku mengenalimu aku sudah bisa membaca bahwa kamu seorang perempuan yang tenang, ku dengar saat pertama kali kita berbicara tentang baksos ke organisasian, dan saat itu kamu yang menjadi skertarisnya dan aku yang baru saja merangkap menjadi anggota, tapi aku sudah bisa membaca bahwa kamu perempuan yang berbeda, bicaramu lembut, suaramu berirama, mulai saat itu aku sudah bisa membaca karaktermu dari bahasa tubuhmu, sembari kau perlihatkan senyum elokmu dan sejak saat itulah aku dan kamu saling mengenali sampai sore ini.
Apalah artinya angin
tanpa daun,apalah artinya danau tanpa air, semua diciptakan berpasang pasangan
walau sesekali mereka harus menikmati kemarau panjang.
“Apa yang kau dapati
perihal air didanau ini” Anjani bertanya pendek
“Aku mencium aroma
kedamaian disini jan” jawabku sembari menoleh.
“Kedamaian seperti
apa” tanyanya lagi
“Ya damai aja apa lagi
kalo sama kamu” jawabku nyengir
Tapi sebenarnya bukan
itu juga jawabanku, ada yang lebih panjang yang harus ku jelaskan lewat
jawabanku tapi aku sedikit malu, sesungguhnya dalam hatiku danau ini tempat
menyimpan sejuta kebahagiaan,kenapa? Karena aku dan kamu sering menghabiskan
waktu sore akhir pecan disini didanau ini tempat sejuta isyarat hati yang kini
meniti jalan lewat hati, iya aku bahagia perihal danau ini dan kamu sebagai
bahagianya.
Ku rasa malam semakin
pekat hembusan angin sampai terasa seperti mengetuk ngetuk jendela kamarku dan
tercium aroma hujan akan membasahi bumi ku malam ini, kelabulah malamku saat
gemircik hujan malam ini benar benar turun, suaranya sampai membuat resah sembilu
hatiku merasuk berlari kedalam dadaku yang kini menghujani rinduku padamu dan
sepertinya hujan ingin ikut meramaikan resah hatiku akibat kerinduanku padamu.
Ku rasa malam ini aku sedang rindu nan candu padamu, rindu yang
menggebu gebu dan tentang ngilu yang menaggung rindu, begitu kerasnya rindu
yang saat ini ku derita, terpatah patah aku membaca isyarat hati, api berkobar
menjalar dan membakar rona rona ruang kalbuku, menyulut seolah olah aku harus
segera jumpa denganmu, apakah ini rindu yang amat candu.
Malam ini aku terbayang bayang oleh sosokmu
melintasi sukmaku dengan asmaramu membawa sejuk sampai kamarku, lihatlah hujan
diluar sana, suaranya begitu merdu,
Semerdu aku yang
sedang merasakan jatuh cinta dihatimu, apa artinya cinta tanpa kata kata dan
barisan abjad yang indah, kamu terlalu aku resapi perlahan lahan sampai diujung
ubun ubunku, apa kamu merasakan perihal yang sama dengan hatiku yang merata
malam ini, Anjani aku jatuh diatimu apakah aku akan terbangun lagi dalam
bingkai bingkai hatimu
Terpatah patah aku
membaca gerak laju pikiranku malam ini, laju pikiran perihal kamu semua tentang
apa yang ada pada dirimu,
Malam ini begitu pekat
mungkin akan terasa pengap, berdebu
Minggu, 21 September 2014
Apa Kabar
Genap sudah satu minggu dari jumat yang lalu sampai jumat malam ini, kita belum juga berkomunikasi via Bbm, entah apa yang ada di benakmu saat aku mencoba tak menghubungimu satu minggu yang lalu, apa adakah di fikiranmu perihal aku?
Sengaja aku mulai tak menghubungimu, nyatanya kamu sudah terlalu sibuk dengan dunia mu dan dunianya, hingga aku tersisihkan dari hari harimu,
Satu minggu tanpa berkomunikasi dan tanpa mendengar kabarmu, bukan perihal yang mudah, aku harus melawan rasa sepiku sendiri, aku mesti berkelahi dengan cemburuku, ketika kamu mulai memamerkan dia di foto profil Bb mu, serentak nadiku mulai mengkerut, sakit.. Tentu, ingin marah tapi aku siapa!!!
Aku menyadari semua keterbatasan ruang itu, ruang singgah yang tak kau beri cahaya padaku,
Iya memang aku terlalu berlebihan kepadamu, maafkan aku jika aku seperti itu,
Nyatanya sampai sekarang aku masih belum bisa membuang rasa itu jauh jauh,
Tapi mungkin kamu belum mengerti atau kamu memang tidak mau perduli, aku selalu kalah jika harus menjawab tentang keadaan... Kapan kamu akan menyapaku kembali lewat pesan singkatmu, aku ingin mendengar kabarmu,
Aku tau siapa aku, aku paham dimana aku harus mengerti, mungkin ini waktu yang tepat untuk aku mengerti, berhenti mengganggumu, berhenti berkomunikasi denganmu, karna aku tau saat ini kau sedang dilanda taman bunga bersamanya
Sebenarnya aku rindu tapi untuk kali ini aku malu untuk sekedar menyapamu atau berbasa basi denganmu,
Aku malu aku terlihat kerdil,
Aku hanya bisa mewakilkan kecemburuanku,kerinduanku,kekhawatiranku, aku hanya bisa mewakilkan semua perihal kamu lewat status statusku di bkackberry messengerku, karna aku tau, aku bukan merupakan bagian dari cerita bahagiamu
Langganan:
Postingan (Atom)