Dua bulan yang lalu kita pernah bercerita tentang malam yang begitu menawan, duduk bersisian saling membaca mata, merangkai kata dan menyederhanakan kita, sesederhana purnama dan seistimewah kita,
Sebenarnya ini bukan perihal malam yang menawan tapi ini perihal kita duduk bersisian saling memandang ditemani secangkir kopi jahe ditaman bulan dengan langit berbintang diselimuti malam,
Dua bulan yang lalu kita duduk terakhir kali disini dibangku berwarna putih dengan sejuta senyum terlihat dari bibirmu,
Sekarang dewiku pergi menuju surgaNYA dijemput dengan kereta kencana milik TuhanNya, saat dia pergi aku melihat ia pergi memakai gaun yang cantik, bermakotakan bunga diatas kepalanya,
kali ini bukan perihal tentang kita, tapi perihal aku yang tak lagi bisa menyederhanakan kita, kali ini aku tanpa kamu tidak ada kita yang menyederhakan malam,
Surat ini ku buat dengan sembilu yang menusuk rongga rongga dadaku, tanpamu pilu tanpamu kaku, pergimu indah tapi lebih indah jika kita pergi bersama sama menuju surgaNYA
Kamu pergi tanpa pamit terlebih dahulu padaku, tanpa sebuket bunga untukku, tanpa secangkir teh jahe dan tanpa barisan abjad yang indah,
surat ini mewakili dua bulannya aku tanpamu, sepi,gelap,pengap dan berdebu, sampai pada akhirnya aku pilu,
Aku sering menyelipkan namamu disela sela doa ku, kamu pasti mengetahui itu, mengetahui segala sesuatu tentangku, disini, untku mu surat ini ku buat dengan jemariku sendiri dengan kata kata yang mungkin tak indah tapi semoga kanu membacanya disana,
Dariku Arjuna yang mencintaimu Dewi malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar