Selasa, 09 Desember 2014


Surat Merah Jambu.


Sepucuk surat merah jambu yang kau titipkan dulu kepada temanku, masih ku simpan rapih dikotak pribadiku. sepucuk surat yang berisi perihal hatimu kepadaku selalu membuat hatiku ingin membacanya berulang-ulang.

hey apa kabar kamu? sudah berapa lama ya kita tak saling membalas surat saat surat yang ku balas lewat tangan jelekku ini hingga sampai saat ini belum mampir ketanganku ini.

huft aku rindu cerita-cerita pada suratmu, saat kamu takut gendut karna makan yang tak teratur saat kamu menonton film kesukaanmu dan lupa rutinitas belajarmu setiap malam. ahh aku rindu keluh kesah yang kamu tuangkan pada surat mungilmu.

Kamu mampu melukis hingar hatiku dengan rangkaian kata pada suratmu dan itu membuatku lebih jauh untuk melanglang imaji.

Hey kamu Tentia Aliasari sedang apa kamu disana? samakah denganku yang disini sedang menatap rembulan pekat lalu membayangkan dirimu, ku harap begitu.

entah sudah malam yang keberapa sejak kamu tak membalas suratku aku semakin resah akan dirimu. apa kamu baik-baik saja atau telah berdua dengan yang lain. ahh aku berkali-kali mengusir rasa khawatirku akan kehadiran orang lain dihatimu dengan membaca kembali surat-suratmu.

ku cumbui hujan yang turun diluar jendela kamarku. tetesannya mengalir pada kaca jendela kamarku. kali ini aku merasa benar-benar kesepian bersama waktu yang kian sembilu.

aduh hatiku mulai berantakan semenjak tak ada kabar darimu yang kamu tulis dalam surat mungilmu, kemarilah dekap bau tubuhku bersama hujan yang kian deras. aku selalu rindu surat yang kamu belum kepadaku rasanya aku ingin menangis tapi aku lelaki tak boleh selemah itu.

tapi aku juga manusia yang berperasaan akupun punya air mata lalu aku juga ingin menangis tapi sekali lagi aku lelaki dan lelaki tak boleh lemah. sulit ku terjemahkan yang kini bersarang dihatiku. sekali ini aku rindu surat-suratmu.

Selasa, 25 November 2014



SAJAK ( AKU BUNGA DAN KAU HUJAN )


" MATAMU DENGAN HATIMU SAMA SAJA, TIDAK ADA YANG BERUBAH DARI SEMUANYA.
PELANGIMU MASIH SAJA HINGGAP DINADIMU, MERAH WARNAMU MASIH HINGAR SEPERTI YANG DULU.
SERANGKAI CANDU YANG MEREBUT RINDU LALU MENCUMBUINYA BERSAMA HUJAN.
HEY ! KAU LELAKI HUJAN, BASUH TUBUHKU DENGAN BENING AIR MU, LALU BACAKAN AKU SEBUAH PUISI PERIHAL WANGI TANAH SETELAH HUJAN.


AKU SERING KALI KEHILANGAN ASA PERIHAL TINTA YANG SELALU KU TUANGKAN DIATAS KERTAS, LALU MEREKA PERGI BERSAMA WAKTU YANG TAK LAGI AKAN KEMBALI.
KU PERSILAHKAN AIR MU MENYETUBUHI DURI-DURI YANG MENEMPAL PADA TUBUHKU.

JANGAN BIARKAN PILU MENYEBRANG KELAUT HATIKU, TAHAN MEREKA DENGAN AIR DERASMU JANGAN BIARKAN MEREKA MERANGSEK MASUK MERUSAK HARU HATI KU, SELEBIHNYA AKU MENGIZINKANMU YANG BENING DIHATIKU.

HATI YANG BEGITU BIRU KINI SUDAH JARANG KAU SAMBANGI
SEPANJANG JALAN PERTEMUAN SEMUA MENYISAKAN LARA, MAKA KEMARILAH DEKAP ERAT WANGI TUBUHKU. AKU DAN KAMU HANYA ADA SATU, AKU BUNGA DAN KAU HUJAN "

Rabu, 15 Oktober 2014



Maaf yah guys admin jarang post hehe lagi repot soalnya
cerita zahra akan ada bagian bagian selanjutnya.
thanks
Zahra jangan menangis air matamu belati bagi jantungku
Biarlah angin membawa riuh damai dalam jiwamu
Dentuman nafasmu masih terdengar merdu
Aroma tubuhmu masih tercium harum

Zahra seseungguhnya akupun merasai asap yang mengepul pada dadaku
aku ingin pergi dan mungkin takan kembali...
sudahlah Zahra terima saja lelaki hebat pilihan orang tuamu
aku tak begitu hebat untuk memasuki kehidupan bersamamu

Sepenggal cerita kita berakhir dibulan oktober, bersama  rinai hujan,bersama sembab yang memukul mukul mataku..
Zahra aku cinta kamu, sungguh aku pun ingin meretas rasa itu bersamamu,
tapi apa dayaku ketika mereka menentang semua kejujuran hatiku,
Zahra kau akan lebih bahagia hidup bersama pilihan orang tuamu,

Zahra turuti saja kemauan orang tuamu, aku cinta kamu tapi kamu jangan membantah kedua orang tuamu, aku tak ingin kamu menjadi anak yang durhaka Zahra,

Biar bersama pilu aku kubur dengan waktu, biar waktu yang, menjadi obat kepiluanku


Kamis, 02 Oktober 2014




Dua bulan yang lalu kita pernah bercerita tentang malam yang begitu menawan, duduk bersisian saling membaca mata,  merangkai kata dan menyederhanakan kita, sesederhana purnama dan seistimewah kita,
 Sebenarnya ini bukan perihal malam yang menawan tapi ini perihal kita duduk bersisian saling memandang ditemani secangkir kopi jahe ditaman bulan dengan langit berbintang diselimuti malam,
 Dua bulan yang lalu kita duduk terakhir kali disini dibangku berwarna putih dengan sejuta senyum terlihat dari bibirmu,
Sekarang dewiku pergi menuju surgaNYA dijemput dengan kereta kencana milik TuhanNya, saat dia pergi aku melihat ia pergi memakai gaun yang cantik, bermakotakan bunga diatas kepalanya, 
kali ini bukan perihal tentang kita, tapi perihal aku yang tak lagi bisa menyederhanakan kita, kali ini aku tanpa kamu tidak ada kita yang menyederhakan malam,
 Surat ini ku buat dengan sembilu yang menusuk rongga rongga dadaku, tanpamu pilu tanpamu kaku, pergimu indah tapi lebih indah jika kita pergi bersama sama menuju surgaNYA
 Kamu pergi tanpa pamit terlebih dahulu padaku, tanpa sebuket bunga untukku, tanpa secangkir teh jahe dan tanpa barisan abjad yang indah,
 surat ini mewakili dua bulannya aku tanpamu, sepi,gelap,pengap dan berdebu, sampai pada akhirnya aku pilu, 
 Aku sering menyelipkan namamu disela sela doa ku, kamu pasti mengetahui itu, mengetahui segala sesuatu tentangku, disini, untku mu surat ini ku buat dengan jemariku sendiri dengan kata kata yang mungkin tak indah tapi semoga kanu membacanya disana,

Dariku Arjuna yang mencintaimu Dewi malam.





Selasa, 23 September 2014

Budi gue pengen cerita,


Budi gue pengen cerita,

Cerita apa din cerita aja, jawab budi

dini : “bud gue tuh pengen banget ngomong gini, >kamu tau ga judul skripsi aku uda di acc dosen , aku nyari refrensi kemana ya, hmmm oya dospem aku siapa ya…semoga ga rese, satu lagi doain aku juga ya semoga lancar skripsinya aamiin<

Budi : ya ngomonglah ke Angga jangan dipendem gitu ga baik, jangan sedih” 

dini : “gue pengen ngomong sama ipank,” keras suara dini sambil menoleh

“Kok ke ipank bukan ke angga” budi penasaran.

Dengerin simak baik baik,ya bud  “ ipank mantan gue udah 7tahun pacaran, dan gue dibiasain dimanja sma dia, annga ga kayak ipank,angga cuek banget sama gue dan biasanya hal sekecil apapun gue ceritain ke ipank, kalo gue cerita atau ngomong ke angga dia paling jawab gini, *kaya begitu doang? Ga penting!! Gitu pasti”, 

Terus si ipank ini dimana, Tanya budi,

“Ada tapi udah masing masing ga pernah kemunikasian, sebenernya gue putus dari ipank pas 1 hari sebelum kita berangkat ke bogor, tuh kan gue putusnya baru tiga bulan bud, angga jahat sama gue, dia ga care sama gue” jawab dini

Dini sambil menitikan air matanya yang sering sederas gerimis, ia mulai mengabiskan tisyu diatas meja makan kita berdua malam itu,
Sambil tersedu sedu ”ipank itu pacar,temen,kakak,sodara,musuh, mangkaannya gue suka ngerasa sakit banget kalo angga ga perduli dan dingin sama gue, soalnya gue ga dibiasain kaya gini, angga jahat” semakin sering air matanya keluar