Baru saja kemarin rabu
kita bertemu didanau dekat rumahmu, tapi sekarang aku sudah lagi rindu, rinduku
terlalu candu untuk dihentikan, bahkan sayap pipitpun tak mampu memotong candu
rinduku, rasanya aku selalu ingin bersamamu, bersamamu berjalan diatas hamparan
bunga, dihiasi kerlip lampu taman, berpegangan,bersisian saling memandang, Laju darahku semakin
kencang tak tahan aku serasa ingin segera berjumpa denganmu, menikmati rinai
hujan yang dekat dengan pelupuk mata, seperti sore kemarin lidahku terbungkus
oleh kaku, Anjani sungguh aku luruh dihadapanmu,
Sore itu aku dan kamu
duduk bersisian, memandang alur air yang tenang seperti alam yang saat itu
teduh, kamu terlalu batu aku kaku dan kamu terlihat semu, duduklah aku dan kamu
diatas rumput yang hijau dan sepertinya bersahabat, angin yang tak terlalu
kencang, senja yang mulai tampak, siluet yang mulai tiba tanpa dipanggil,
seolah olah mereka tahu apa yang aku butuhkan saat ini, suasana jingga yang ku
renguh dalam dada, tak merobek jika mulai singgah,
Sejenis rasa dibalut
dengan senja aku mulai merona melihat wajahmu yang terlihat jelas disisiku,
bertepian rasaku mulai tumbuh, entah apa ini yang tiba dan bersarang dihatiku,
mungkinkah aku menjatuhkan rasa terhadapmu, entahlah tapi saat sore itu aku
mulai teringat ingat perihal kamu,
Sepertinya aku ingin
menggenggam tanganmu sore itu, tapi diiringi dan diimbangi rasa malu yang
bedebu aku urungkan niatku untuk menggenggam tanganmu menikmati sentuhan lembut
jemarimu .
Ada rasa yang hinggap
dihatiku sore itu yang menjelma dan menyatu menjadi kalbu, mengucur deras dalam
dadaku sesekali berombak menghantam jantungku, ada keinginan yang saat itu
melintasi pikiranku dengan laju yang
cepat secepat gelombang menghantam sang karang, ingin ku menatap tajam
kedua bola matamu, aku hanya ingin tahu seberapa lamakah aku bisa menatapmu
dengan tatapan mata jatuh cinta.
Sejak Enam bulan yang
lalu semenjak aku mengenalimu aku sudah bisa membaca bahwa kamu seorang
perempuan yang tenang, ku dengar saat pertama kali kita berbicara tentang
baksos ke organisasian, dan saat itu kamu yang menjadi skertarisnya dan aku
yang baru saja merangkap menjadi anggota, tapi aku sudah bisa membaca bahwa kamu perempuan yang berbeda, bicaramu lembut, suaramu berirama, mulai saat
itu aku sudah bisa membaca karaktermu dari bahasa tubuhmu, sembari kau
perlihatkan senyum elokmu dan sejak saat itulah aku dan kamu saling mengenali
sampai sore ini.
Apalah artinya angin
tanpa daun,apalah artinya danau tanpa air, semua diciptakan berpasang pasangan
walau sesekali mereka harus menikmati kemarau panjang.
“Apa yang kau dapati
perihal air didanau ini” Anjani bertanya pendek
“Aku mencium aroma
kedamaian disini jan” jawabku sembari menoleh.
“Kedamaian seperti
apa” tanyanya lagi
“Ya damai aja apa lagi
kalo sama kamu” jawabku nyengir
Tapi sebenarnya bukan
itu juga jawabanku, ada yang lebih panjang yang harus ku jelaskan lewat
jawabanku tapi aku sedikit malu, sesungguhnya dalam hatiku danau ini tempat
menyimpan sejuta kebahagiaan,kenapa? Karena aku dan kamu sering menghabiskan
waktu sore akhir pecan disini didanau ini tempat sejuta isyarat hati yang kini
meniti jalan lewat hati, iya aku bahagia perihal danau ini dan kamu sebagai
bahagianya.
Ku rasa malam semakin
pekat hembusan angin sampai terasa seperti mengetuk ngetuk jendela kamarku dan
tercium aroma hujan akan membasahi bumi ku malam ini, kelabulah malamku saat
gemircik hujan malam ini benar benar turun, suaranya sampai membuat resah sembilu
hatiku merasuk berlari kedalam dadaku yang kini menghujani rinduku padamu dan
sepertinya hujan ingin ikut meramaikan resah hatiku akibat kerinduanku padamu.
Ku rasa malam ini aku sedang rindu nan candu padamu, rindu yang
menggebu gebu dan tentang ngilu yang menaggung rindu, begitu kerasnya rindu
yang saat ini ku derita, terpatah patah aku membaca isyarat hati, api berkobar
menjalar dan membakar rona rona ruang kalbuku, menyulut seolah olah aku harus
segera jumpa denganmu, apakah ini rindu yang amat candu.
Malam ini aku terbayang bayang oleh sosokmu
melintasi sukmaku dengan asmaramu membawa sejuk sampai kamarku, lihatlah hujan
diluar sana, suaranya begitu merdu,
Semerdu aku yang
sedang merasakan jatuh cinta dihatimu, apa artinya cinta tanpa kata kata dan
barisan abjad yang indah, kamu terlalu aku resapi perlahan lahan sampai diujung
ubun ubunku, apa kamu merasakan perihal yang sama dengan hatiku yang merata
malam ini, Anjani aku jatuh diatimu apakah aku akan terbangun lagi dalam
bingkai bingkai hatimu
Terpatah patah aku
membaca gerak laju pikiranku malam ini, laju pikiran perihal kamu semua tentang
apa yang ada pada dirimu,
Malam ini begitu pekat
mungkin akan terasa pengap, berdebu